JAKARTA - Janji Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang akan menurunkan harga minyak bisa mejadi sentimen di pasar valuta asing.
Tapi, wacana penurunan BBM itu masih harus adu kuat dengan penguatan USD, yang tengah meraja di hampir seluruh mata uang dunia.
Pasalnya, terjadinya penarikan dana besar-besaran oleh investor asing karena kebutuhan likuiditas menyusul krisis global.
Di sisi lain, tertekannya rupiah mendekati angka Rp12.000 per USD pada perdagangan Selasa (28/10/2008) kemarin dan kemudian ditutup pada level Rp10.750 per USD, ternyata membawa reaksi masyarakat untuk berlomba-lomba menjual dolar Amerikanya untuk mendulang keuntungan.
Namun, tren melemahnya rupiah diperkirakan akan bersambung pada pembukaan perdagangan hari ini. Pasalnya gejolak pasar global yang terus terasa dampaknya, telah memaksa para investor asing menarik dananya secara besar-besaran untuk menutupi kebutuhan dolar di negaranya.
"Tingginya penjualan dolar tidak sebanding dengan penawaran rupiah yang akibatnya rupiah tercinta kembali turun," kata analis pasar valata asing Fahrial Anwar, di Jakarta, Rabu (29/10/2008).
Sementara Analis Edwin Sinaga mengatakan, depresiasi rupiah yang terjadi saat ini tidak separah jika dibanding dengan negara-negara lain.
Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan, pemerintah akan segera melakukan sejumlah langkah-langkah antara Bank Indonesia (BI) dan Departemen Keuangan untuk menahan pada level yang terus terpuruk. (rhs)

