
JAKARTA - Inflasi pada bulan Juli 2008 tercatat sebesar 1,37 persen. Angka ini lebih rendah dibanding bulan sebelumnya sebesar 2,46 persen.
Penyebab inflasi bulan ini masih di atas satu persen adalah disebabkan adanya tren kenaikan harga bahan makanan rata-rata sebesar 1,85 persen.
?
Demikian disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heryawan dalam jumpa pers di Gedung BPS, Jakarta Pusat, Jumat (1/8/2008).
Disebutkan Rusman, inflasi tertinggi terjadi Manokwari, Papua dan terendah di Banda Aceh sebesar 0,25 persen.
Sementara untuk Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat sebesar 11,59 persen. "Seluruh kota masih mengalami inflasi,"

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) rencananya akan mengumumkan laju inflasi Juli 2008. Data ekspor-impor juga akan diumumkan.
Rencananya, pengumuman itu akan dibacakan oleh Kepala BPS Rusman Heriawan, pukul 13.00 WIB, di Gedung BPS 6 lantai 8 Ruang Abdul Madjid, Jalan Dr Sutomo, Jakarta Pusat, Selasa (1/8/2008).
"Saya memprediksi untuk inflasi Juli turun sekitar 0,5-0,6 poin, sekitar 1 digit nantinya atau sekitar 1,9 persen," kata Pengamat ekonomi Indef Aviliani, saat dihubungi okezone, Jumat, (1/8/2008).
Dia menambahkan, hal tersebut dikarenakan kebutuhan akan Bahan Bakar Minyak (BBM) tidak lagi menjadi poin utama kelangkaan gas di beberapa daerah terutama di luar Pulau Jawa dan subsidi BBM untuk rumah tangga diambil oleh industri dengan jumlah besar.
"Harga gas untuk industri Rp9.000 namun kebanyakan industri membeli gas yang bersubsidi untuk kebutuhan rumah tangga dengan jumlah banyak. Harganya kan lebih rendah cuma Rp7.000," ujar Aviliani
Dampak kenaikan harga BBM diramalkan masih akan menjadi faktor penyumbang inflasi pada Juni 2008. Namun, tidak terlalu signifikan hasilnya, sehingga keyakinan akan menurunnya tingkat inflasi Juli makin kuat. "Sekarang yang dihadapi bukan BBM lagi tapi kelangkaannya," ujarnya.
Pada 1 Juli lalu, BPS mengumumkan inflasi Juni 2008 tercatat sebesar 2,46 persen. Inflasi Juni 2008 terhadap Juni 2007 (year on year/YoY) sebesar 11,03 persen
JAKARTA - Perubahan ekstrim pada kondisi ekonomi global tidak hanya berimbas pada situasi makroekonomi Indonesia, tetapi juga pada kenaikan inflasi.
Namun apabila dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia, nilai inflasi di Indonesia bukanlah yang terburuk.
"Hal ini disebabkan karena Indonesia memiliki dua mesin yang cukup kuat, yakni adanya suplai barang produk-produk Indonesia baik itu di domestik maupun luar negeri," ujar Chief Economy Bank Mandiri Martin Panggabean, saat paparan Makroekonomi Indonesia 2008, di Plaza Bank Mandiri, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, Kamis (24/7/2008).
Martin menambahkan, baik domestik maupun luar negeri, Indonesia memiliki porsi yang hampir sama. Hal tersebut membuat daya tahan ekonomi Indonesia menjadi lebih kuat dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia.
Di samping itu, secara year on year (YoY) inflasi di Indonesia diproyeksikan hanya naik tiga persen dari yang sebelumnya delapan persen di tahun 2007 menjadi 11 persen di 2008. Sedangkan Singapura kenaikannya sampai tujuh kali lipat dari satu persen di 2007 ke tujuh persen di 2008. Sedangkan Amerika Serikat mengalami kenaikan hampir dua kali lipat dari 2,7 persen di 2007 ke 4,2 persen di 2008

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menyatakan laju inflasi hingga saat ini belum sampai pada tahap mengkhawatirkan. Untuk itu BI optimistis bisa menurunkannya dengan berbagai instrumen moneter yang ada.
"Mudah-mudahan tidak (mengkhawatirkan). Inflasi sekarang kan lebih karena harga minyak dunia yang harus kita lihat secara hati-hati, namun dari pernyataan Menkeu yang mengatakan sisi fiskal masih aman, itu membuat confidence pasar dan masyarakat," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi A Sarwono di Jakarta, Jumat (11/7/2008).
Hartadi menuturkan, pernyataan Menteri Keuangan yang menyebutkan bahwa APBN masih aman meski harga minyak menyentuh USD150 per barel, membuat bank sentral yakin dan mampu mengendalikan inflasi yang melonjak pascakenaikan harga BBM 23 Mei lalu.
"Kalau semuanya aman seperti itu, skenario terburuk jangan dipikirkan dulu. Kita tetap optimistis bisa mengendalikan dan menurunkan inflasi," paparnya.
Meski demikian, lanjut Hartadi, BI tetap menyiapkan semua instrumen moneter yang ada untuk mengantisipasi jika keadaan perekonomian dunia terus memburuk dan merembet ke perekonomian nasional

JAKARTA - Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan pemerintah telah melakukan koordinasi antardepartemen untuk menjamin inflasi akhir tahun akan mencapai target, yaitu 11,25 persen.
"Target inflasi 11,25 persen harus dijamin. Sedangkan Departemen Perdagangan bertugas menjaga supaya tidak terjadi kelangkaan stok bahan pangan agar suplai dan pasokan aman dan tidak ada gejolak harga di pasaran," katanya di Jakarta, Jumat (4/7/2008).
Menurut Mari, diperlukan langkah komprehensif agar inflasi bisa dikendalikan akibat kenaikan bahan bakar minyak.
Dia mengakui inflasi Juni sesuai laporan Badan Pusat Statistik (BPS) melampaui perkiraannya semula, yaitu 2,1 persen.
Mari menyatakan kenaikan harga makanan dan minuman (mamin) tidak signifikan karena dipengaruhi oleh fluktuasi harga komoditas internasional.
Sementara itu, pengamat ekonomi Iman Sugema mengatakan pemerintah harus bekerja keras agar inflasi tidak melebihi 11,25 persen di akhir tahun. Iman menyatakan kenaikan harga bahan pokok akan memicu inflasi lebih tinggi lagi.
"Pemerintah juga harus menjamin tidak ada kenaikan BBM lagi, sebab inflasi akan melambung dengan naiknya BBM
di cuplik dari okezon.com oleh zack

